Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat ditulis pada tahun 1960an. Membacanya, kita akan menemukan bahwa Inggit Garnasih masih hidup dalam kenangan indah Bung Karno. Setidaknya setelah 20 tahun bercerai, toh Bung Karno tuturkan kepada Cindy Adams, 'Demikianlah, di tahun 1922...aku kembali ke Bandung...kepada cintaku yang sejati.'Suasana mereka bertemu pada 1921 pun dikisahkan dengan mesra yang bikin iri, '...di depan pintu masuk dalam suasana setengah gelap dibingkai lingkaran cahaya dari belakang...Dia memiliki bentuk tubuh yang kecil, dengan sekuntum bunga merah menyolok di sanggulnya dan sebuah senyuman yang mempesona.'
Sang Proklamator meneruskan seperti kemarin saja terjadi, peristiwa lebih dari empat dekade silam tersebut, 'Saat pertama aku melangkah masuk, aku berkata dalam hati, 'Oh, luar biasa perempuan ini.'' Love at first sight? Aku yakin itu.
Dua tahun kemudian Bung Karno dan Inggit Garnasih menikah. Saat itu BK berusia 21 tahun adalah mahasiswa tahun kedua Sekolah Teknik Tinggi (ITB sekarang) juga pejuang politik yang matang.
![]() |
| Sumber Foto : rfun.wordpress.com |
Sedangkan Inggit senantiasa dan aktif mendukung karier politik BK. Dalam memoar, Ali Sastroamijoyo mengingat Inggit sebagai istri yang selalu menemani BK kemana pun dia pergi melakukan propaganda untuk PNI. Sedangkan dalam kenangan BK, '...Inggit sangat penting bagiku. Dia adalah ilhamku. Dia adalah pendorongku.'
Pada tanggal 25 Mei 1926, BK diwisuda. Inggit memahami meski keuangan mereka sulit namun sang suami menolak tawaran proyek besar dan bekerja untuk Hindia Belanda karena itu berarti secara diam-diam dia membantu rezim kolonial menindas rakyat, 'Bagi kami kemiskinan bukanlah sesuatu yang perlu membuat malu. Kami semua orang yang berpikiran idealis.'
![]() |
| Sumber Foto : rfun.wordpress.com |
Semasa di Bandung finansial keluarga sebagian besar ditopang Inggit, 'Di masa itu orang telah mengakui aku sebagai pemimpin, tetapi keadaanku masih tetap melarat. Inggit mencari penghasilan dengan menjual bedak dan alat-alat kecantikan yang dibuatnya sendiri di dapur kami. Selain itu kami juga menerima orang yang indekos...' BK tak pernah lupa. Suatu hari di Bengkulu, BK yang tak hendak menceraikan Inggit berujar, 'Kau menjadi tulang punggungku dan tangan kananku selama separuh umurku.'
Pada akhir 1930, BK dijebloskan ke Penjara Sukamiskin. Dua kali seminggu Inggit diperbolehkan menjenguk. Dia berjalan kaki dari Bandung untuk Bung Karno; membawakan makanan serta menyelundupkan buku dan uang, sekaligus berita dari teman-teman di luar melalui sistem lubang jarum, 'Katakanlah Inggit mengirimkan kitab Alquran pada tanggal 24 April. Aku harus membuka bab 4 halaman 24 dan dengan ujung jari aku meraba dengan teliti satu halaman itu. Di bawah huruf-huruf tertentu terdapatlah bekas lubang jarum...'
![]() |
| Inggit Ganarsih dan Bung Karno Sumber Foto : nrmnews.com |
Sesungguhnya sebelum BK ditangkap, Inggit telah mendapat penampakan selama lima malam terturut-turut. Oleh sebab itu ketika BK harus pergi ke Solo untuk menghadiri rapat umum, 'Inggit dengan sedih berjalan mengikutiku sampai ke pintu depan. Wajahnya lesu dan tegang. Selagi aku pergi, suatu gelombang firasat telah meliputi dirinya. Dengan lemah-lembut ia memanggil dengan nama kecilku, 'Kus,' katanya pelan, 'Kau jangan pergi!''
Kedekatannya dengan BK telah mengasah sanubari Inggit untuk dapat merasakan bencana yang akan menimpa orang yang dicintainya. Ketika ketakutan Inggit menjadi nyata dan BK dipenjara, dia menjenguk di setiap saat yang mungkin selama satu tahun itu. Tak kisah dia mesti berjalan kaki Bandung-Sukamiskin, tak kurang dari tiga jam sekali tempuh, saat terik maupun hujan, tak naik dokar demi menghemat setiap sen yang mungkin. Ketika BK keluar dari penjara, dia ada di sana menyambutnya.
Bahkan ketika BK diasingkan ke Ende, Inggit ikut berlayar. Tinggal di pondok beratap ilalang, tanpa listrik, tanpa air leding, 'Inggit tidak pernah mengeluh...tetapi aku juga dapat merasakan, bahwa dia diliputi kesedihan. Istri mana yang tidak sedih menyaksikan suaminya dilucuti daya hidup, ambisi, semangat untuk hidup...Setiap kali Inggit memandangiku, setiap kali pula darah menetes dari urat darahnya. Memang terasa lebih berat melihat orang yang kau cintai menghadapi penderitaan daripada bila kau mengalami sendiri penderitaan itu.'
Sulit membayangkan BK melewati masa-masa berat dalam hidupnya tanpa tegar sekaligus lembut Inggit Garnasih.
Inggit memuja suaminya, BK tahu jelas, 'Dalam hidupnya tidak ada yang lain kecuali aku, serta apa yang kupikirkan dan kuharapkan dan kuimpikan. Aku berbicara; dia mendengarkan. Aku gembira, dia mensyukuri.'
Tak pernah disangkanya, BK pun menurutku, memuja Inggit, 'Dia memberiku cinta, kehangatan, sikap tidak mementingkan diri sendiri...'
Tak segan BK menyebut Inggit sebagai 'keberuntungan yang utama' bahkan penangkapan pertamanya terjadi dianggapnya karena dia tidak disertai istri tercintanya, 'Inggit selalu menjadi jimat keberuntunganku. Ke mana saja aku pergi, dia selalu ikut. Saat aku ditangkap itu, Inggit untuk pertama kalinya tidak menemaniku.'
Sumber
Beranda 


Tidak ada komentar:
Posting Komentar